Minggu, 24 Januari 2016

Belum Punya Rumah "Kok cari Isteri"

Pengasuh yang terhormat,

Saya anggota no Wb.xxxx, baru-baru ini didatangi seorang Peminat. Dari perkenalan pertama itu kami bicara banyak. Tetapi diam-diam saya perhatikan gaya bicaranya sok pamer dan agak egois. Dia mengaku punya ini, punya itu. Tapi alamatnya tempat indekos yang kebetulan saya kenal dengan Ibu-kosnya.


"Kenapa tidak tinggal dirumah sendiri saja mas?" tanya saya.

"Rumah saya jauh dari tempat kerja, susan transportnya" jawab dia.
"Tidak punya kendaraan?"
"Tidak" jawabnya sambil berdiri mau pamit pulang. Rupanya dia tidak ingin diinterogasi lebih detil.

Besoknya saya langsung melacak tempat kosnya dan minta informasi dari Ibu-kosnya. Ternyata, dia setengah pengangguran yang sering kerumah kos itu, numpang di rumah kakaknya sdah bertahun-tahun. Artinya dia tidak punya rumah dan tidak bekerja.

Oh, nggak punya apa-apa mau cari isteri..


Menurut Pengasuh, bagus nggak perkenalan kami dilanjutkan? Mohon saran Pak Hasbie.


Wb.xxxx




Dari Pengasuh:
Dik Wb.xxxx, sebaiknya diselidiki lagi lebih intens. Jangan terburu memutuskan hubungan. Hidup memang turun-naik, kadang di atas kadang di bawah.

Tetapi, keputusan sepenuhnya tetap ada pada Anda.


Kamis, 21 Januari 2016

Yasco, Biro Jodoh Tertua di Indonesia yang Jadi Primadona sebelum Diterjang Era Digital

JAKARTA, POTRETNEWS.com - Yayasan Scorpio yang berada di Jalan Kramat Lontar, Jakarta Pusat, kini menjadi biro jodoh manual tertua yang masih eksis. Didirikan sejak 1974, Bambang Riyanto, selaku pengelola, mengklaim ada 15 ribu pencari jodoh yang mencari peruntungan di biro yang ia kelola.



Dikutip dari Koran Tempo 4 Oktober 2015, anggota perempuan biro jodoh ini jumlahnya dua kali lipat dibanding laki-laki. Perbandingannya, 10.000-an berbanding 5.000-an. Dalam sebulan, ada tiga sampai empat orang mendaftar, baik di biro Jakarta atau Bandung.
Yasco, begitu biro jodoh ini biasa disbeut, sempat menjadi primadona sebelum era digital menerjang. Dulu, dalam sebulan ada 40 orang mendaftar menjadi anggota baru. Didirikan oleh M. Subky Hasbie pada 11 Mei 1974, Yasco sempat terabaikan setelah Hasbie wafat pada 2012. Yasco kembali berdenyut pada April 2015 di tangan Bambang.
Larasati, misalkan, sengaja menyambangi Yasco untuk mencari pendamping hidup. Berbekal pasfoto berwarna ukuran 4x6, fotokopi KTP, dan uang pendaftaran Rp 125 ribu, wanita berusia 63 tahun ini sudah dapat mengantongi kartu anggota berwarna kuning.
Seluruh biodata Larasati disimpan di dalam album berwarna pink. Jika ada pria tertarik, pria tersebut boleh membuka album pink untuk melihat biodata lengkap, termasuk nomor kontak. "Setelah itu, terserah mereka teknisnya untuk kenalan lebih jauh. Anggota Yasco kan pinter-pinter he-he-he." kata Bambang. ***
(Farid Mansyur) - See more at: http://www.potretnews.com/artikel/baca/2015/10/07/yasco-biro-jodoh-tertua-di-indonesia-yang-jadi-primadona-sebelum-diterjang-era-digital/#sthash.LyF5xQj5.dpuf

Kamis, 29 Desember 2011

Pertemuan Umum 328

MENYAMBUT TAHUN BARU 2012
Resto Pandan Hijau, Jl. Raya Pemuda No. 18 Rawamangun Jakarta Timur
Minggu, 8 Januari 2012 pk 10:00-14:00

Keluarga Besar YASCO akan merayakan tahun baru 2012 pada hari MINGGU tanggal 8 Januari 2012 Pukul 10.00-14.00 WIB di Resto Pandan Hijau, Jl. Raya Pemuda No. 18 Rawamangun Jakarta Timur. Acara ini merupakan Pertemuan Umum ke 328 sejak YASCO berdiri, 11 Mei 1974 dalam rangka memperkenalkan anggota dan peminat secara langsung. Siapa saja boleh ikut asal tidak terikat dalam perkawinan dan mendaftar dulu di Kantor YASCO:
Jl. Kramat Lontar J-163 Jakarta Pusat, telp. 021 3857005. Tiap hari Senin s/d Sabtu, pukul 09.00 – 15.00 WIB, dengan biaya perorang Rp. 100.000,-

Acara dimulai dari pembukaan, latihan Salsa/Poco-poco, rehat kopi/teh dan snack, perkenalan umum, ramah tamah, lunch, bersalam-salaman, terus pulang.